Sunday, 4 December 2016

Pembangunan Kabah oleh Suku Quraisy

Saat itu suku Quraisy selaku kaum terkemuka, tengah berkuasa di Mekkah.

Mereka punya tanggung jawab memperhatikan Kabah sebagai pusat ibadah yang telah diwariskan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

Sayangnya masyarakat tidak lagi mengamalkan ajaran murni yang disampaikan Ibrahim dan Ismail.

Mereka lebih senang dan meyakini doanya akan diterima Tuhan bila menyembah patung Hubal, Lata, dan Uzza.

   Letak kota mekkah yang memang berada di sebuah lembah di antara bebukitan, membuat kota suci itu sering mendapat banjir kiriman dari dataran tinggi di sekitarnya.

Saat terjadi banjir besar, rumah-rumah di Mekkah hancur dan setengah bangunan Kabah runtuh.

Sementara setengah bangunan yang tersisa, juga terancam ambruk akibat akibat pondasinya sudah tidak kuat lagi.

   Setelah banjir surut,   Marta Al-Walid Ibn Al-Mughirah,   Kepala suku Qurais, bersama kaumnya memperbaiki kabah.

Mereka merenovasi Kabah dengan menggali pondasi yang beberapa meter lebih dalam dari pondasi lama.

   Marta Al-Walid merasa kesulitan mencari material berupa kayu kokoh untuk pondasi Kabah.

Dia malah mendapatkan kayu-kayu dari sebuah kapal dagang milik saudagar bangsa Romawi yang terdampar di pantei jeddah akibat terkena angin topan.

Pembangunan Kabah kali itu menyertakan Baqum,   seorang tukang kayu masyhur dari Romawi yang beragama nasrani.

Baqum membuat kayu-kayu itu pada atap yang rata di atas enam batang tiang kayu yang terbagi dari dua baris, masing-masing tiga buah tiang.

Dari pinggir atap, selanjutnya dibuat saluran air yang mengalir ke dalam lingkungan hijr Ismail


dan membuat tangga kayu sebelah dalam Kabah untuk naik keatas atap.
   Bangunan juga menghiasi tiang-tiang dengan gambar-gambar pohon dan tingkat para nabi dan malaikat.

Oleh orang-orang Quraisy, pintu Kabah didesain agar bisa ditutup dan dikunci.

Pintunya hanya dibuka pada hari senin dan kamis, dan orang yang masuk ke Kabah harus membuka sepatu.

Paturan ini pertama kali diberlakukan oleh Marta. Al-Walid Ibn al-Mughirah.

di dalam Kabah ada sumur sebagai tempat penyimpanan barang-barang berharga zaman dulu, seperti tanduk kibasyi Nabi Ibrahim.

di atas sumur diletakan berhala Hubal dan Kabah dipakaikan kelambu dari Yaman.

pembangunan Kabah era Suka Quraisy di bawah pimpinan Marta Al-Walid hampir rampung.

Ketika prosesi terakhir ingin meletakan hajar aswad (batu hitam)   pada  posisi semula, suku-suku di Mekkah ribut.

masing-masing suku merasa berhak menaruh batu yang menurut sebagian riwayat berasal dari Sorga itu.

Rupanya persoalan ini tidak bisa dianggap sepele.

Bila sajah ada satu suku yang berani mengangkat hajar aswad,  maka suku lainnya yang merasa tidak ikut memindahkan hajar aswad  tak segan-sagan akan mengeluarkan pedang dari sarungnya.

Singkat kata, setiap kepala suku lebih memilih perang ketimbang tidak kebagian mengusung hajar aswad.

Allah kemudian memberi jalan keluar melalui hadirnya Muhamad,  seorang pemuda yang terkenal kejujuran dan keberaniannya.

muhamad memanggil setiap kepala suku yang hadir, antara lain dari rombongan   Bani Abdul Manaf, Utbah Ibn Abi Rabiah, dan Abu Hazaifah Ibn Al-Mughirah. 

Masing-masing dipersilahkan memegang tiap sudut dari kain ihram yang berisi hajar aswad. 

Saran Muhammad diterima hadirin secara lapang dada.

Hajar aswad  lalu diangkat berami-ramai dan diletakan dipojok Kabah.

Pembangunan Kabah yang tingginya 18 hasta pu
Bersambung.

No comments:

Post a Comment